Senin, 12 Mei 2008

my poem

SEPOTONG MIMPI

sepotong mimpi terselip dalam lamun yang ngungun, menggores harap dan kenang
yang tiba-tiba terbangun mencarimu, mencari sudut-sudut wajahmu. ijinkan
seberkas cahaya itu melukismu, akan kujaga senyumnya dalam ruang rahasiaku.

sepotong mimpi, harapan yang tak tergapai. kekecewaan demi kekecewaan pernah
menderas bagai rajam hujan, menumbuhkan sebuah kesadaran. kelembutan yang
pernah kau semai mendamaikan hatiku dengan harapan dan masa lalu.

ketulusanmu perajut keping-keping mimpiku

JAKARTA, SEBUAH MINGGU PAGI

orang besar mangkat
orang besar melayat
orang kecil khidmat
merayapi jalanan yang tersumba

DI SEBUAH TELEVISI

letusan salvo menggema di udara
barisan tentara berjalan pelan
menurunkan bendera hingga setengah tiang
: seorang jendrel berpulang

tangis, tawa, senyum atau biasa-biasa saja
apakah yang tertinggal dalam benak mereka?

DI SEBUAH KEMACETAN

raung sirine yang membelah jalan
iringan mobil dalam pengawalan
amboi... jarak setebal kaca ini
terasa begitu jauh
harapan macet, letih menggapai-gapai

kekecewaan dan harapan

Berdamai dengan kenangan pahit masa lalu dan menghadapi masa depan dengan sejumlah pilihan meripakan subjek persoalan psikologis yang selalu ada dalam perjalanan hidup seorang mausia,seperti juga yang dialami dua orang kakak beradik,Takhasi dan Mitsosaburo.Kenangan yang dialami Jepang dan kegamangan bangsa Jepang paska-perng dunia II tergambar dalam novel yang membuahkan hadiah novel satra 1994 ini.Dalam alur cerita yang di bangun maju dan mundur secara bergantian,Oe menunturkan pergulatan batin kedua karakter yang berbeda tsb dalam mengatasi persoalan sehari-hari.Konflik kedua karakter itu dibawa hingga menyentuh pemahaman spiritual.
Kepiawaian Oe dalam menuturkan mitos dan sejarah bangsa Jepang pun membawwa persoalan yang dihadapi kedua bersaudara itu masuk dalam perdebatan moralitas dan heroisme bangsa Jepang.Masa kecil di sebuah desa tradisional di pulau Shikoku serta pengaruh militerisme Jepang pada masa muda nya,agak memberikan Oe warna kemanusiaan yang kental pada jalinan kisah ini.Dengan penuturan melalui sudut pandang"aku"yang lugas serta jalinan kisah yang padat,Oe menguraikan pertentangan antar mitos dan modernisasi dalam psikologi bangsa Jepang.

my poem

Aku seorang perindu yang kecewa
Telah cuba menumpahkan seluruh jiwaraga
Di atas kesetiaaan hati seorang lelaki
Yang di dalam hatinya
Terlukis duka yang panjang

Aku yang pernah mengecewakan kini di kecewakan
Tetapi hati ku tidak menangis menatapnya
Malah tidak tersenyum menerima kehadirannya
Tetapi aku sebaliknya memahami kejadian alam begitu
Mengecewa dan dikecewa

Kekecewaan itu datang ketika aku sendirian
Jauh dari keluarga dan saudara
Jauh dari rakan-rakan dan teman seperjuangan
Lalu kekecewaan itu bersemadi di dalam diri ku
Sepi menjadi rahsia hati

Ketika kekecewaan itu mengetuk pintu kamar
Ketenangan ku terlontar jauh keluar jendela
Aku terkapai-kapai cuba menegakkan kebenaran
Hanya seketika aku berpeluang bersuara
Yang terakhir dari seluruh bicara

Kini kesedaran ku telah mematikan ingatan
Membunuh seluruh perasaan yang mencengkam
Segalanya telah ku tumpahkan di sini
Dengan harapan segalanya akan berakhir di sini
Dengan harapan engkau akan mengerti

AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

my poem

Ku hanya sebuah batu yang ada dipinggir sungai
walaupun diasah berabad-abad
berharap untuk menjadi permata
tetapi aku hanya sebuah batu
yang tidak berarti olehnya

Kuhanya sebuah bintang
yang berharap untuk menerangi bumi
dengan segala sinar yang kupunya
tetapi aku hanya sebuah benda kecil
yang menerangimu di malam hari
dan tak berarti olehmu

Haruskah kuterus berharap
Haruskah kuterus berusaha
Hanya kebodohan yang terlihat dari matamu
Kuberharap menjadi batu yang bersinar bagai permata
Kuberharap menjadi bintang yang menerangi bumi
tapi aku hanya manusia biasa
yang memiliki batas kemampuan dan harapan
untuk dapat menjadi yang terbaik
Selamat tinggal kisahku

Beribu bintang hadirkan keindahan
Terangi malam yang sunyi ini
Ingin kugapai satu bintang dilangit
Tuk dapat menemaniku
Cairkan suasana hati ini.

Keheningan malam menepis kegundahan
Hilangkan semua hasrat di hati
Menunggu datangnya sang biadadari
Turun dari khayangan
Dan membawaku terbang tinggi
Ke dalam singgasana cinta

Beribu bintang hadirkan keindahan
Terangi malam yang sunyi ini
Ingin kugapai satu bintang dilangit
Tuk dapat menemaniku
Cairkan suasana hati ini.

Keheningan malam menepis kegundahan
Hilangkan semua hasrat di hati
Menunggu datangnya sang biadadari
Turun dari khayangan
Dan membawaku terbang tinggi
Ke dalam singgasana cinta

Aku seorang perindu yang kecewa
Telah cuba menumpahkan seluruh jiwaraga
Di atas kesetiaaan hati seorang lelaki
Yang di dalam hatinya
Terlukis duka yang panjang

Aku yang pernah mengecewakan kini di kecewakan
Tetapi hati ku tidak menangis menatapnya
Malah tidak tersenyum menerima kehadirannya
Tetapi aku sebaliknya memahami kejadian alam begitu
Mengecewa dan dikecewa

Kekecewaan itu datang ketika aku sendirian
Jauh dari keluarga dan saudara
Jauh dari rakan-rakan dan teman seperjuangan
Lalu kekecewaan itu bersemadi di dalam diri ku
Sepi menjadi rahsia hati

Ketika kekecewaan itu mengetuk pintu kamar
Ketenangan ku terlontar jauh keluar jendela
Aku terkapai-kapai cuba menegakkan kebenaran
Hanya seketika aku berpeluang bersuara
Yang terakhir dari seluruh bicara

Kini kesedaran ku telah mematikan ingatan
Membunuh seluruh perasaan yang mencengkam
Segalanya telah ku tumpahkan di sini
Dengan harapan segalanya akan berakhir di sini
Dengan harapan engkau akan mengerti